widget

Rabu, 20 Maret 2013

MUTHIAH PUTRILAN SYAMNAH HARAHAP

 nahh... ini nih puisi yang aku suka, buatannya kak Tiffany Maylova Pakpahan ... Perhatikan deh huruf awal tiap barisnya, itu nama lengkap aku "MUTHIAH PUTRILAN SYAMNAH HARAHAP"
hehehe :D
 check it out.....

Mimik senja mulai merangkul bumi.
Ukiran gerimis menemaniku sore ini.
Tak sengaja membawaku  menggeluti setiap inchi pemikiran tentangmu.
Hasrat yg masih bercokol angkuh dipikiranku.
Inginku hentikan dan teriaki rindu.
Ah benar, berhenti mencintaimu.
Hentikan memikirkanmu, juga.

Pahitnya rindu, Kau pernah rasa?
Usikan rinduku, Kau pernah tau?
Tidak, Kau tidak pernah tau.
Rasamu hambar, kelabu terhadapku.
Irisan yg tidak pernah ku bygkan Kau lakukan.
Lama atau sebentar, aku akan beranjak.
Aku tak mau menelannya lagi; pahit.
Nyatanya, ini kemauanmu.

Sungguh, rasamu begitu ambigu.
Ya, acak sekali.
Arah pkiranmu tidak berujung.
Mendesak terlalu banyak.
Naluri memaksa bibirku diam, membisu.
Aku serahkan pada kata, pada tulisan.
Hanya menyuarakan bisik-bisik di dadaku, yg tak tertebak.


Hai, kamu.
Aku berjanji, aku tak merutukimu.
Rasamu tidak pernah sempurna, memang.
Arus perasaanmu tidak hanya padaku.
Hatimu bahkan, tidak melakukan pemfokusan utk ku.
Apapun itu, ceritamu menjadi potongan mozaik kehidupanku.
Pengajaran tentang rasa, tentang cinta, daan keikhlasan.

Pantai

Diufuk timur, mentari menjadi pemenang mengejarmu.
Menyinarimu beserta seluruh isi bumi pertiwi.
Tidak mau kalah, desir ombak menggulung merdu.
Menghempaskan sutra air mengayunkan sukma jiwa.
indah, sungguh ini anugerah-Mu.
Pantai..Tidak sesederhana panggilanmu.

Pohon kelapa, kau mengenalnya kan?
Bagaimana tidak, ia menjadi perwakilan namamu.
Bersama sepoi-sepoi, duduk ternganga melihat keajaiban ini; pantai.

Bahkan ketika lembaran senja mengetuk
keindahanmu menjadi-jadi.
Lihat saja ketika mentari tenggelam.
Ronamu memerah
yah, kau memerah menyambut senja.
Pantai, sebutanmu
Semua orang menyanjungmu, selamat.

by Tiffany Maylova Pakpahan :)

Bersama Ayah

Aku menjajah jarak, tidak sendiri
Aku menggopoh bukit, bersamanya
Turun dan naik lagi, meraba bukit
Bahagia itu sederhana, aku bersamanya, Ayah . . .

Berlari kecil memanjakan kaki
Melintasi rerumputan yg menguning
Bernyanyi, melantunkan nada dua suara
Bersamanya, Ayah
Mataku bersuara, bahagia

Beradu kata dibalik deretan sapi
Beradu rasa menanti senja
Aah, ini liburanku, sederhana memang
Sederhana seperti Ayah menyulap rumput berbentuk hati untuk ku
Sederhana seperti refleksi mentari ikut bermain bersama kami
Sederhana seperti ekor sapi turut menari, berirama.
Sederhana seperti Ayah mengecupku
Aku selalu senang bersamamu, Ayah

Sepertinya senja mulai cemburu atas kemesraan kami.
Betapa tidak?
Ia hadir memaksa mentari menunduk.
Isyarat yg tak sulit utk ku tebak
mengakhiri hariku disini-desaku

Kami menyerah pada senja
Kembali melintasi rerumputan, meraba bukit.
Bukan melanjutkan, tapi berpamitan.
Bahagia itu sedrhana
saat aku bersamanya, Ayah

by Tiffany Maylova Pakpahan :)

Hujan

Hujan
Hujan pembawa knangan ttgmu begitu pekat
Dengan awan hitam
Hawa dingin
sunyi dlm gemericik
Hujan bercerita

Dahsyatnya hujan membawa pikiranku berlari
Entah itu ttg mu atau bukan
Benar, akal sehatku terbang dibawa nama mu, oleh hujan.
Gerimisnya menyerah,
Hujan tak mengerti kenapa banyak yg menangis karenanya.
Hujan tak pernah mengerti, dan aku juga.
Ia lelah dikaitkan rindu.
Jika smua mngeluh, bagaimana dgnku?
Keterlaluan, Hujan bahkan bercerita
ia tak sengaja membawa kenanganmu padaku
Hmm... tak mengapa

Hujan, titip satu cerita tentangnya
Aku merindukannya

by Tiffany Maylova Pakpahan :)

No Tittle

Datang pergi, datang pergi
Terkadang kau datang membawa senyuman indah
Tapi terkadang kau datang membawa kekecewaan untukku

Aku tak meminta apapun
Aku juga tak meminta lebih.
Ah aku salah mungkin,
Terkadang aku meminta lebih
Terkadang aku merepotkanmu dan terkadang aku terlalu bermanja padamu
Tanpa aku sadar, KAU siapa dan AKU siapa

Tapi akankah kau sadar, aku seperti ini karenamu
Aku bermanja karena kau juga mau memanjakanku
Kenapa kau mau menuruti semua apa yg aku inginkan?
Kau membuat aku terbuai dengan semua kemanjaan yg kau beri
Kemanjaan yg seharusnya kau beri padanya, bukan padaku
Kau salah, kenapa aku yg dimanja?
Harusnya dia bukan aku

Sekarang apa yg terjadi?
Semua yg kita lakukan, hal biasa kita lakukan, menjadi hal yg dilarang untukmu
Aku tau, kau tak lagi kau yg dulu
Kau sudah menjadi tangkai di bunga lain
Bukan lagi tangkai yg menopang mahkota indahku
Aku juga tau, aku tak bisa bermanja ria denganmu lagi
Sekarang kau bagai seekor kucing manja yg dikurung oleh majikannya
Bahkan memanggil nama yg biasa kita sebutkan saja kau sudah tak mau lagi
Lantas harus kah aku tetap bertahan?

Aku tak meminta kau memilih
Aku juga tak meminta kau meninggalkannya
Karena aku juga seorang perempuan yg punya perasaan sama seperti dirinya
Tak mungkin aku menyakiti dia, hanya dengan keegoisan yg terkadang membodohi diriku sendiri

Aku hanya meminta kau tetap menjadi seperti dulu
Tak berubah sedikit pun
Tetap bisa bermanja dan bersenang-senang denganku
Tetap bisa memanggilku dengan sebutan itu
Dan tetap bisa membuat aku tersenyum saat aku merasa sedih

Karena aku cuma ingin kau tidak berubah
Selalu dan selamanya menjadi kau yg dulu

by Utari Adista Pratiwi :)

Pelangi

Kamu itu pelangi buat aku, terkadang berwarna kuning yg ceria, biru yg damai, hijau yg tenang tetapi juga abu-abu yg sulit untuk di deskripsikan
Untuk melihatmu,langit harus menurunkan hujan, begitu juga aku setelah kepedihan yg mendalam kau selalu ada memberi tujuh warna dimataku yg berkaca-kaca dengan air mata
Tujuh warna itu begitu indah dan sungguh menenangkan hatiku.
Keceriaan si kuning, kedamaian si biru, ketenangan si hijau kau tuangkan padaku.
Bahkan si merah yg berani pun kau berikan padaku, agar aku tak takut menghadapi hitamnya awan kelam yg akan mendatangkan hujan dimataku.
Tetapi terkadang kau juga memberi si abu-abu yg sangat sulit untuk aku deskripsikan sendiri.
Samar dan hampir tidak terlihat tetapi sangat menyakitkan.

Tujuh warna dimataku bercampur menjadi satu.
Tetapi kenapa si abu-abu begitu terlihat?
Sangat tampak jelas padahal warna itulah yg sangat aku tak sukai hadir
Warna itu yg membuat mataku berkaca-kaca dengan air mata membuat dadaku sungguh terasa sesak, hingga aku sulit untuk bernafas.

Hujan itu turun begitu derasnya dari pelupuk mataku.
Deras bahkan tak bisa dibendung lagi.
Tapi apakah hujan kali ini akan menghasilkan pelangi?
Aku pun tak tau tetapi sepertinya tidak untuk kali ini.
Dan lagi tujuh warnamu itu meninggalkan bekas mendalam disini,, dihatiku....

by Utari Adista Pratiwi

RELA

Aku turut berbahagia..
Bila kau temukan cinta yang baru
Cinta yg buat mu bahagia
Dengan hati setegar batu karangEngkau ku relakan bersamanya
Frustasi dan rasa kecewa mengikat jiwaku
Gemuruh cemburu terbendung
Hati ini kosong tanpa mu
Itulah perasaanku...
Jiwa yang kesunyian
Kini, kisah kita tlah usai
Lantas lupakanlah aku.

by Bobby K. Barasa